Panas menyengat terasa satu bulan terakhir ini. Mengingatkanku saat aku tinggal di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Suhu mulai meningkat hingga 28 °C. Untuk saya suhu di angka ini sudah terbiasa, tapi untuk penduduk asli Lima sudah terasa sangat panas. Waktu awal saya datang ke Lima, suhu sangat dingin untuk saya. Saat itu suhu terendah yang saya rasakan hingga 5 °C. Belum seberapa memang jika dibandingkan dengan suhu rata-rata di Eropa. Tetap saja untuk saya 5 °C sudah membuat saya menggigil ketika berada di luar rumah.
Sejak September 2016 sampai sekarang, ada banyak pengalaman yang saya dapatkan selama tinggal di Lima, Peru. Suka dan duka menjadi warga asing juga banyak saya terima. Di artikel ini saya akan berbagi dengan kalian semua yang punya rencana untuk tinggal di Lima.
SUKA
Untuk saya pribadi, saya merasa senang karena setelah menikah di Indonesia, saya bisa ikut suami tinggal di Peru, negara pertama di luar negeri yang saya tinggali.
Saya juga suka tinggal di sini karena jalan-jalannya lebih teratur di beberapa distrik walaupun masih ada orang-orang yang tidak ikut aturan, tapi setidaknya sedikit sekali pengguna sepeda motor. Banyak polisi yang siaga di setiap sudut kota. Saya perhatikan, orang-orang di sini lebih menghargai budaya antre (walaupun ada beberapa tempat yang masih tidak teratur). Ini yang sangat saya suka. Walaupun kadang mereka tidak sabar karena terlalu lama mengantre, tapi mereka akan tetap berdiri pada posisi mereka dan tidak menerobos barisan orang lain. Kalaupun ada satu orang yan menerobos barisan, pasti akan diteriaki oleh semua orang yang antre.
Buah-buah dan sayuran-sayuran di sini ukurannya besar-besar, mempunyai banyak jenis, kualitasnya bagus dan harganya kadang-kadang lebih murah dari Indonesia atau setidaknya banyak harga yang sama seperti di Indonesia. Bahkan saya baca kemarin, Peru akan mengekspor anggur ke Indonesia. Untuk sayuran kentang contohnya. Di Peru ada sekitar 4000 jenis kentang dan harganya murah sekali. Bahkan hewan juga ukurannya lebih besar. Contohnya ayam ukurannya lebih besar di sini daripada di Indonesia.
Alamnya sangat unik dan indah. Saya sangat suka ketika sedang jalan-jalan di sini. Saya bisa melihat Pegunungan Andes yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Karena memang Pegunungan Andes terbanyak ada di Negara Peru. Saya tidak tahu mengapa, ketika saya melewati Pegunungan Andes, saya merasa ada energi baru yang saya dapatkan.
Banyak saya temui persamaan antara Peru dan Indonesia. Peru dan Indonesia mempunyai banyak macam budaya. Ada banyak tanaman, buah dan sayur yang sama seperti di Indonesia. Jadi, saya bisa memasak masakan Indonesia.
DUKA
Duka ketika tinggal di Peru adalah jauh dari keluarga. Pergi ke Negara Peru dari Indonesia seperti pergi ke dunia lain. Jaraknya hampir seperti membelah bumi dan perbedaan waktu yang berbeda mencapai 12 jam. Di Indonesia sudah hari ini, tapi di Peru masih kemarin. Ketika saya harus berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia, saya harus menunggu malam hari untuk bisa berkomunikasi di pagi hari di Indonesia. Saya lakukan ritual ini biasanya 2 minggu sekali. Kadang-kadang juga saya dapat kendala ketika sinyal susah.
Masalah bahasa juga menjadi kendala bagi saya. Oleh karena itu saya masih belajar Bahasa Spanyol, itupun masih dasar dan otodidak. Guru saya ya suami saya. Ketika ada kata-kata baru di dalam percakapan sehari-hari yang saya tidak mengerti, saya tanya artinya kepada suami saya. Saya menggunakan Bahasa Indonesia dalam keseharian saya dan suami saya. Mengapa tidak Bahasa Inggris? Bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Ditambah lagi dengan kebiasaan sewaktu di Indonesia, suami saya kebetulan kuliah Bahasa Indonesia dan dia harus mempraktekan Bahasa Indonesianya. Itulah yang membuat saya dan suami terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia. Menurut saya lebih bagus menggunakan Bahasa Inggris untuk kami berdua bisa mengasah dan melatih kemampuan Bahasa Inggris kami berdua. Tapi, bahasa sehari-hari yang digunakan di Peru adalah Bahasa Spanyol. Semua orang di rumah juga memakai Bahasa Spanyol. Suami saya juga memakai Bahasa Spanyol untuk berkomunikasi dengan mereka. Secara otomatis karena kebiasaan itu, kami selalu menggunakan Bahasa Indonesia menjadi bahasa sehari-hari kami berdua.
Ada kejadian lucu yang kami alami. Ketika kami sedang melakukan percakapan, secara tidak sengaja suami saya mencampur Bahasa Spanyol dengan Bahasa Indonesia dan saya mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa. Ini terdengar sangat lucu, yang membuat kami tiba-tiba tidak bisa merespon percakapan karena tidak mengerti. Karena hal konyol itu, sejenak kami tertawa.
Duka yang lain adalah ketika saya rindu masakan Ibu saya dan Indomie (btw, sekarang sudah ada Indomie di Peru loh). Masakan Indonesia yang lain bisa saya buat di sini, walaupun susah mendapatkan bumbunya. Minimal di Peru, saya bisa memasak rendang, gado-gado, ayam penyet, balado, ayam woku, ayam rica-rica, telur dadar dan ada beberapa lagi. Sekali saya makan tempe di sini, tapi entah karena apa kok rasanya tidak seenak di Indonesia. Mungkin, saya salah membumbui atau karena memang lebih enak makannya di Indonesia. Hmm...saya rindu sekali dengan masakan Ibu saya. Saya rindu tumis kangkung, tempe goreng, dan sambal terasi buatan Ibu saya.
Tidak bisa ngobrol-ngobrol dengan tetangga juga jadi masalah untuk saya. Kalau di Indonesia terutama di desa saya, saya bisa duduk di depan rumah, lalu tetangga-tetangga biasanya akan datang juga untuk sekedar ngobrol, bersenda gurau sambil makan cemilan, bermain sama anak-anak kecil dan tertawa-tertawa dengan mereka. Di sini, saya selalu tinggal di dalam rumah. Ketika keluar rumahpun harus segera menutup pintu dan melihat-lihat keadaan sekitar. Hal ini dilakukan karena saya harus selalu hati-hati dimanapun.
Tinggal di Lima harus kuat mental dan selalu berhati-hati dimanapun kita berada karena kriminal di sini lebih menyeramkan dibandingkan dengan di Jakarta. Kalau saya pribadi menyarankan untuk tidak terlalu mencolok dalam berpenampilan ketika berada di jalan (tidak memprovokasi). Di Lima sering terjadi pencurian dan perampokan dan kadang mereka juga membawa senjata api. Ini terjadi tidak di semua tempat dan juga hanya di waktu-waktu tertentu saja ketika ada kesempatan oleh pencuri. Saya tidak sedang menakut-nakuti tapi hanya ingin berbagi pengalaman saja karena faktanya seperti itu di Lima.
Tinggal di negara orang memang tidak mudah, tapi semua itu sudah menjadi konsekuensi dari apa yang sudah saya pilih. Saya harus menerima dan memang sudah tahu akan terjadi seperti ini. Saya juga melalui proses yang panjang dalam mengambil keputusan untuk tinggal di sini. Tidak semudah yang kalian bayangkan. Saya menikmati kehidupan saya yang sekarang ini. Semua orang juga mempunyai kisah kehidupan yang berbeda-beda dengan kisah suka duka yang berbeda pula. Dimanapun kalian tinggal, yang paling penting adalah bagaimana cara kita menikmatinya, ikhlas dan bahagia.
Salam hangat dari Peru.