Showing posts with label Sharing. Show all posts
Showing posts with label Sharing. Show all posts

Thursday, November 9, 2017

Sarapan Bersama Chef Vania Wibisono di Wisma Duta, Lima

Sarapan Bersama Chef Vania Wibisono
[Photo : Bu Evi]

Hari Minggu tanggal 5 November 2017 kemarin, saya di diundang oleh Duta Besar Indonesia di Lima ke acara Sarapan Bersama dengan Chef Vania Wibisono dari Jakarta. Kebetulan Chef Vania baru saja mengikuti acara festival kuliner MISTURA di Lima. Beliau mendemonstrasikan cara memasak masakan Indonesia pada acara tersebut. Selain itu juga sebagai ajang perkenalan masakan Indonesia kepada orang-orang Peru. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diundang di acara tersebut sebagai tamu kehormatan. Chef Vania Wibisono mempersembahkan 3 menu masakan yaitu Tahu Isi, Gado-Gado dan Rendang.

Siomay, Garang Asam, Nasi Uduk Goreng,
 Ayam Goreng Bumbu Kuning dan Bakwan Sayur
Siomay dan  Bakwan Sayur




















Pada acara MISTURA kemarin, saya tidak sempat datang, jadi tidak bisa mencicipi 3 menu di atas. Akan  tetapi di acara Sarapan Bersama saya mencoba beberapa menu yang dihidangkan oleh Chef Vania. Menunya adalah Garang Asam, Siomay, Nasi Uduk Goreng, Ayam Goreng Bumbu Kuning dan Bakwan Sayur. menu sederhana tapi enak sekali. Seingat saya dari penjelasan Chef Vania, Nasi Uduknya ini sangat spesial karena digoreng dan dikukus loh! Dan rasanya enak sekali, baru pertama kali ini saya mencoba nasi uduk yang digoreng. Tapi, maaf ya fotonya tidak lengkap.

Chef Vania Wibisono ini mempunyai restoran yang bernama The Betawi Salad yang ada di Shophaus, Lantai 2, Jl. Teuku Cik Ditiro No. 36, Menteng, Jakarta Pusat yang menyediakan menu makanan sehat. Mungkin, kalau lagi di Jakarta bisa mengunjungi restorannya.

Suasana kehangatan di acara tersebut sangat terasa, walaupun sebenarnya udaranya dingin😜. Saling bertukar cerita banyak hal dengan orang-orang Peru yang juga diundang juga di acara ini. Chef Vania ini sangat humble dan mau berbagi cerita salah satunya tentang Nasi Uduk Goreng.

Acaranya singkat tapi cukup untuk menghangatkan pagi yang dingin di Lima 😏😏. Terima kasih semuanya.



Share:

Monday, October 30, 2017

Resep! Cara Membuat Macaroni Schotel Memakai Keju Peru, Enak, Sehat dan Bergizi



Kali ini saya ingin membagikan resep cara membuat Macaroni Schotel. Resep ini sangat spesial karena saya menggunakan keju asli Peru. Awalnya, saya tidak yakin karena saya pernah mencoba keju Peru jenis lain dan saya tidak suka. Tapi, sesuai dengan saran dari penjual keju di pasar, akhirnya saya mencoba dan ternyata enak juga.  Resep Macaroni Schotel ini selain rasanya enak juga sehat dan bergizi loh!




Yuk, langsung siapkan bahan-bahannya :


RESEP πŸ‘‡ 
  • 250 gram Makaroni 

BAHAN-BAHAN UNTUK MEMBUAT SAUS :

  • 1 sdm margarin untuk menumis
  • 1 buah bawang bombay ukuran sedang
  • 2 siung bawang putih
  • 1 buah dada ayam filet dan bersihkan kulitnya
  • 1/2 liter susu cair UHT plain
  • 1 buah wortel ukuran sedang
  • Sepotong keju Peru, banyaknya sesuai selera (diparut)
  • Lada dan garam secukupnya
  • 1 sdm oregano
  • 1 sdm maizena untuk mengentalkan saus
  • 2 butir telur ayam non kolesterol

PERSIAPAN
  • Cuci semua sayur dan ayam sampai bersih
  • Potong dadu kecil ayam, wortel dan bawang bombay
  • Haluskan bawang putih
  • Parut keju
  • Buat larutan 1 sdm maizena dengan air mentah
CARA MEMASAK
  • Rebus makaroni sampai matang, buang air dan tiriskan
  • Panaskan margarin dan tumis bawang bombay sampai harum dan masukan bawang putih sampai berwarna kecoklatan
  • Masukan ayam lalu masak sampai setengah matang
  • Masukan susu cair UHT plain 
  • Masukan keju, lada dan garam, masak sampai mendidih
  • Masukan larutan maizena untuk mengentalkan saus, aduk rata
  • Lalu angkat dan diamkan sampai hangat
  • Setelah hangat, siapkan wadah besar
  • Masukan makaroni yang sudah ditiriskan ke dalam wadah besar
  • Masukan 2 butir telur non kolesterol dan aduk sampai merata
  • Lalu masukan saus, aduk lagi sampai merata
  • Siapkan wadah untuk mengoven adonan
  • Panaskan oven dengan suhu 180 derajat Celcius
  • Panggang adonan selama 20 menit sampai matang

Tips :
Masukan garam sedikit dulu, karena sudah mengandung keju dan mentega, biar tidak keasinan. Silakan dicicipi dulu, apakah rasanya sudah pas atau belum?


Selamat mencoba!
Share:

Wednesday, August 30, 2017

Kenapa Saya Membuat Blog Indonesia - Peru?

Langsung saja!

Saya akan memberikan beberapa alasan saya membuat blog Indonesia - Peru ini. Pada dasarnya, saya memang suka menulis dari dulu. Saya pernah bekerja juga sebagai copy writer. Belum sehebat para jurnalis yang memang sudah ahli di bidangnya. Tapi, menurut saya, menulis itu bagian dari seni. Setiap orang mempunyai rasa dan gaya tersendiri. Saya paling suka menulis tentang pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan dalam hidup saya. 

Nah, saya membuat blog ini karena berawal dari obrolan saya dan suami saya semenjak tinggal di Peru. Dengan banyak pengalaman mengurus pernikahan sampai masalah legalitas dokumen kami di Indonesia dan di Peru, saya ingin membagikannya kepada teman-teman yang membutuhkan informasi-informasi tersebut. Awalnya, saya sudah cari di internet tentang pernikahan campur antara Indonesia dan Peru, tapi tidak saya temukan. Oleh karena itu, terciptalah blog ini. Semoga dengan blog ini, ada diantara kalian yang membaca tulisan ini dan informasi yang saya tulis di sini bisa membantu.

Selain pernikahan, akhirnya saya putuskan untuk menambah menu baru di blog saya tentang wisata dan budaya Peru. Saya membagikan pengalaman "BACKPACKING" selama di Peru dan makanannya juga dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan di Peru. 

Lalu, bagaimana tentang Indonesia? Saya akan menceritakan juga tentang Indonesia, yang akan dibantu oleh suami saya menggunakan Bahasa Spanyol, karena blog ini juga sekaligus mempromosikan Indonesia di Peru, dan mempromosikan Peru kepada pembaca dari Indonesia.

Saya juga berbagi tips-tips sesuai dengan pengalaman saya tentang semua hal di Indonesia dan Peru. Selain tips, saya juga menulis tentang review produk, makanan, restoran, dan lain-lain. 

Sebelumnya, maaf kalau masih banyak hal yang kurang di blog saya. Jika kalian punya saran dan kritik,  silakan mengirimkan email ke hesty.wonderfulindonesia@gmail.com. Dengan senang hati akan saya terima.

Salam.



Share:

Tuesday, August 8, 2017

Manfaat Mempunyai Carnet de Extranjeria


Tinggal di Negara Peru sudah tidak was-was lagi karena sudah mempunyai Carnet de Extranjeria. Tentu saja saya akan mendapatkan banyak manfaat dari kartu ini. Lalu, apa saja manfaatnya? Yuk, simak informasi berikut ini!

Manfaat mempunyai Carnet de Extranjeria :
  1. Izin tinggal selama 1 tahun yang bisa diperpanjang dengan biaya yang lebih murah dari pada ketika mengurus Carnet de Extranjeria kemarin
  2. Mendapatkan asuransi kesehatan dari pemerintah Peru
  3. Bisa membuat kontrak kerja dengan perusahaan di Peru
  4. Bisa membuat perusahaan di Peru
  5. Bisa membeli rumah di Peru
  6. Bisa masuk ke museum dengan GRATIS pada Hari Minggu setiap awal bulan sejak peraturan Ministerio de Cultura Peru merilis pada Bulan Juli 2017
  7. Harga-harga tiket wisata sama dengan orang Peru
Dan pasti akan ada banyak lagi manfaat yang bisa didapatkan. Sesuai dengan pengalaman saya, saya baru merasakan 2 manfaat yang bisa saya rasakan  yaitu poin nomor 1 dan 6.

Artikel ini akan terus saya update sesuai dengan pengalaman-pengalaman yang nanti akan saya dapatkan di kemudian hari.


Share:

Tuesday, June 13, 2017

Mencicipi Kue Tradisional Peru, Tres Leches!

Tres Leches


Hai kalian semua di Indonesia πŸ™‹

Akhirnya saya bisa mencoba salah satu makanan tradisional di Peru. Namanya Tres Leches dalam Bahasa Indonesia artinya Tiga Susu. Dinamakan Tres Leches karena terdapat 3 macam susu yang dipakai, diantaranya Leche evaporada, Leche condensada (susu kental manis), crema o nata fresca (susu krim atau susu krim segar). Rasanya manis dan lembut. Susunya juga terasa segar. Biasanya mengandung alkohol, jadi untuk yang muslim lebih baik tanya dulu sebelum mencoba. Harga yang dipatok untuk sepotong Tres Leches ini adalah 6 Soles atau sekitar Rp 27.000. Mahal tapi terbayar sama rasanya. Saya yang tidak terlalu suka dengan manis, ketika mencoba ini manisnya cukup dan tidak terlalu berlebihan. 

Kalian bisa dapatkan Tres Leches ini di penjual kaki lima atau di bakery. Kalau saya beli ini di taman Barranco. Di sana adamacam-macam street food yang enak. Ini cake pertama saya di Peru. ❤


Share:

Sunday, June 11, 2017

Resep! Mango Sticky Rice (Khao Niaow Ma Muang) ala Thailand


Saya sudah pernah mereview tentang Mango Sticky Rice. Silakan baca di sini.

Nah, karena tidak di semua daerah menjual jajanan ini, jangan khawatir! Kalian bisa membuatnya sendiri di rumah kok. Silakan screenshot resep di bawah ini!

Bahan-Bahan :
200 gram ketan putih (cuci bersih, rendam dalam air selama 30 menit – 1 jam)
1 1/2 liter air (secukupnya)
1/2 sdt garam
2 lembar daun pandan
2 buah mangga thailand atau mangga apa saja
1 liter santan kental
100 gram gula pasir

Cara membuat:
  1. Kupas mangga, potong memanjang dan dinginkan dalam kulkas.
  2. Didihkan air. Masukkan ketan, garam, dan daun pandan. Aduk hingga air berkurang.
  3. Kukus ketan. Masak hingga ketan matang. Sisihkan.
  4. Masukkan santan dan gula ke panci. didihkan di atas api kecil dan aduk hingga gula larut. Dinginkan.
Resep dikutip dari https://www.vemale.com/kuliner/resep-makanan/60230-tak-perlu-ke-thailand-mango-sticky-rice-dapat-anda-buat-sendiri-di-rumah.html

Penyajiannya bisa dilihat pada foto di atas. Lapisan pertama dalah ketan,lalu diatasnya ada potongan-potongan mangga dan siram dengan saus santan. Kalian juga bisa menambahkan taburan wijen di atasnya. Selamat mencoba!


Share:

Sunday, May 7, 2017

Hari Pertama Kursus Tari Tradisional Indonesia di KBRI Lima

Kursus Tari Tradisional Indonesia di KBRI Lima

Sabtu, 6 Mei 2017 merupakan hari pertama kursus Tari Tradisional Indonesia yang diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Lima, Peru. Kursus ini dibuka untuk orang-orang Peru yang ingin belajar tari tradisional dari Indonesia, tapi orang Indonesia seperti saya yang tinggal di Peru juga boleh mengikuti kursus ini. Kursus ini GRATIS dan dilaksanakan selama 3 bulan setiap Hari Sabtu pukul 10:00- 11:30 (waktu Lima). Nanti akan mendapatkan sertifikat jika mengikuti kelas ini dengan lengkap.

Hari pertama, kami berlatih Tari Tradisional yang berasal dari Deli Serdang [sekarang Serdang Bedagai], Sumatera Utara yang bernama Tari Serampang Dua Belas dan Tari Saman dari Aceh.

SUASANA KELAS
Sebelum kelas dimulai, kami saling memperkenalkan diri dan guru yang mengajar kami adalah orang Peru yang dikirim ke Indonesia oleh KBRI Lima untuk belajar tari tradisional Indonesia di Jakarta. Setelah itu kami melakukan pemanasan dengan berjalan kaki mengelilingi ruangan latihan. 

Kami belajar gerakan sedikit demi sedikit tanpa musik dulu, lalu melanjutkan gerakan dengan musik. Beberapa diantara kami sangat susah mengikuti gerakan termasuk saya.

Tarian pertama saat latihan adalah Tari Serampang Dua Belas. Tari ini sangat simpel dan harmonis gerakannya. Tapi juga tidah mudah untuk dilakukan karena ada banyak blocking yang harus dihafalkan. Untuk Tari Saman, harus benar-benar fokus dan teliti karena ada saat dimana gerakan pelan dan juga harus cepat.

Saya dulu pernah belajar menari Tari Tradisional dari Jawa Tengah tapi sudah lama sekali tidak latihan jadi lupa dan kaku. Sementara, Tari Serampang Dua Belas dan Tari Saman memang sangat berbeda karakternya dengan tarian dari Jawa Tengah. Tarian dari Sumatera khususnya yang beraliran melayu terlihat mudah, tapi ketika saya mencoba ternyata sulit juga.

Di bawah ini ada beberapa foto dari kelas menari yang dikutip dari fanpage KBRI Lima.

Pengarahan Sebelum Kelas Dimulai
Pengarahan Sebelum Kelas Dimulai
Mencoba Posisi Duduk Seperti Tari Saman dari Aceh
Mencoba Gerakan Tari Serampang Dua Belas
Ketika Kaki Kami Merasa Sakit :D

Setelah selesai latihan menari hari ini, kami mencoba saling bertukar cerita. Dan ada dua orang peserta kursus tari ini yang mendapatkan beasiswa Darmasiswa untuk tahun 2017-2018 loh.

Saya sangat senang dengan adanya program kursus-kursus seperti ini karena bisa memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara yang menarikdan menyenangkan. Fyi, selain kursus tari, ada juga kursus Bahasa Indonesia yang bernama BIPA (Bahasa Indonesia Untuk Penutur Asing).





Share:

Friday, February 10, 2017

Suka Duka Tinggal di Peru

Panas menyengat terasa satu bulan terakhir ini. Mengingatkanku saat aku tinggal di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Suhu mulai meningkat hingga 28 °C. Untuk saya suhu di angka ini sudah terbiasa, tapi untuk penduduk asli Lima sudah terasa sangat panas. Waktu awal saya datang ke Lima, suhu sangat dingin untuk saya. Saat itu suhu terendah yang saya rasakan hingga 5 °C. Belum seberapa memang jika dibandingkan dengan suhu rata-rata di Eropa. Tetap saja untuk saya °C sudah membuat saya menggigil ketika berada di luar rumah.

Sejak September 2016 sampai sekarang, ada banyak pengalaman yang saya dapatkan selama tinggal di Lima, Peru. Suka dan duka menjadi warga asing juga banyak saya terima. Di artikel ini saya akan berbagi dengan kalian semua yang punya rencana untuk tinggal di Lima.


SUKA
Untuk saya pribadi, saya merasa senang karena setelah menikah di Indonesia, saya bisa ikut suami tinggal di Peru, negara pertama di luar negeri yang saya tinggali.

Saya juga suka tinggal di sini karena jalan-jalannya lebih teratur di beberapa distrik walaupun masih ada orang-orang yang tidak ikut aturan,  tapi setidaknya sedikit sekali pengguna sepeda motor. Banyak polisi yang siaga di setiap sudut kota. Saya perhatikan, orang-orang di sini lebih menghargai budaya antre (walaupun ada beberapa tempat yang masih tidak teratur). Ini yang sangat saya suka. Walaupun kadang mereka tidak sabar karena terlalu lama mengantre, tapi mereka akan tetap berdiri pada posisi mereka dan tidak menerobos barisan orang lain. Kalaupun ada satu orang yan menerobos barisan, pasti akan diteriaki oleh semua orang yang antre.

Buah-buah dan sayuran-sayuran di sini ukurannya besar-besar, mempunyai banyak jenis, kualitasnya bagus dan harganya kadang-kadang lebih murah dari Indonesia atau setidaknya banyak harga yang sama seperti di Indonesia. Bahkan saya baca kemarin, Peru akan mengekspor anggur ke Indonesia. Untuk sayuran kentang contohnya. Di Peru ada sekitar 4000 jenis kentang dan harganya murah sekali. Bahkan hewan juga ukurannya lebih besar. Contohnya ayam ukurannya lebih besar di sini daripada di Indonesia.

Alamnya sangat unik dan indah. Saya sangat suka ketika sedang jalan-jalan di sini. Saya bisa melihat Pegunungan Andes yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Karena memang Pegunungan Andes terbanyak ada di Negara Peru. Saya tidak tahu mengapa, ketika saya melewati Pegunungan Andes, saya merasa ada energi baru yang saya dapatkan. 

Banyak saya temui persamaan antara Peru dan Indonesia. Peru dan Indonesia mempunyai banyak macam budaya. Ada banyak tanaman, buah dan sayur yang sama seperti di Indonesia. Jadi, saya bisa memasak masakan Indonesia.

DUKA
Duka ketika tinggal di Peru adalah jauh dari keluarga. Pergi ke Negara Peru dari Indonesia seperti pergi ke dunia lain. Jaraknya hampir seperti membelah bumi dan perbedaan waktu yang berbeda mencapai 12 jam. Di Indonesia sudah hari ini, tapi di Peru masih kemarin. Ketika saya harus berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia, saya harus menunggu malam hari untuk bisa berkomunikasi di pagi hari di Indonesia. Saya lakukan ritual ini biasanya 2 minggu sekali. Kadang-kadang juga saya dapat kendala ketika sinyal susah.

Masalah bahasa juga menjadi kendala bagi saya. Oleh karena itu saya masih belajar Bahasa Spanyol, itupun masih dasar dan otodidak. Guru saya ya suami saya. Ketika ada kata-kata baru di dalam percakapan sehari-hari yang saya tidak mengerti, saya tanya artinya kepada suami saya. Saya menggunakan Bahasa Indonesia dalam keseharian saya dan suami saya. Mengapa tidak Bahasa Inggris? Bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Ditambah lagi dengan kebiasaan sewaktu di Indonesia, suami saya kebetulan kuliah Bahasa Indonesia dan dia harus mempraktekan Bahasa Indonesianya. Itulah yang membuat saya dan suami terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia. Menurut saya lebih bagus menggunakan Bahasa Inggris untuk kami berdua bisa mengasah dan melatih kemampuan Bahasa Inggris kami berdua. Tapi, bahasa sehari-hari yang digunakan di Peru adalah Bahasa Spanyol. Semua orang di rumah juga memakai Bahasa Spanyol. Suami saya juga memakai Bahasa Spanyol untuk berkomunikasi dengan mereka. Secara otomatis karena kebiasaan itu, kami selalu menggunakan Bahasa Indonesia menjadi bahasa sehari-hari kami berdua.

Ada kejadian lucu yang kami alami. Ketika kami sedang melakukan percakapan, secara tidak sengaja suami saya mencampur Bahasa Spanyol dengan Bahasa Indonesia dan saya mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa. Ini terdengar sangat lucu, yang membuat kami tiba-tiba tidak bisa merespon percakapan karena tidak mengerti. Karena hal konyol itu, sejenak kami tertawa.

Duka yang lain adalah ketika saya rindu masakan Ibu saya dan Indomie (btw, sekarang sudah ada Indomie di Peru loh). Masakan Indonesia yang lain bisa saya buat di sini, walaupun susah mendapatkan bumbunya. Minimal di Peru, saya bisa memasak rendang, gado-gado, ayam penyet, balado, ayam woku, ayam rica-rica, telur dadar dan ada beberapa lagi. Sekali saya makan tempe di sini, tapi entah karena apa kok rasanya tidak seenak di Indonesia. Mungkin, saya salah membumbui atau karena memang lebih enak makannya di Indonesia. Hmm...saya rindu sekali dengan masakan Ibu saya. Saya rindu tumis kangkung, tempe goreng, dan sambal terasi buatan Ibu saya.

Tidak bisa ngobrol-ngobrol dengan tetangga juga jadi masalah untuk saya. Kalau di Indonesia terutama di desa saya, saya bisa duduk di depan rumah, lalu tetangga-tetangga biasanya akan datang juga untuk sekedar ngobrol, bersenda gurau sambil makan cemilan, bermain sama anak-anak kecil dan tertawa-tertawa dengan mereka. Di sini, saya selalu tinggal di dalam rumah. Ketika keluar rumahpun harus segera menutup pintu dan melihat-lihat keadaan sekitar. Hal ini dilakukan karena saya harus selalu hati-hati dimanapun. 

Tinggal di Lima harus kuat mental dan selalu berhati-hati dimanapun kita berada karena kriminal di sini lebih menyeramkan dibandingkan dengan di Jakarta. Kalau saya pribadi menyarankan untuk tidak terlalu mencolok dalam berpenampilan ketika berada di jalan (tidak memprovokasi). Di Lima sering terjadi pencurian dan perampokan dan kadang mereka juga membawa senjata api. Ini terjadi tidak di semua tempat dan juga hanya di waktu-waktu tertentu saja ketika ada kesempatan oleh pencuri. Saya tidak sedang menakut-nakuti tapi hanya ingin berbagi pengalaman saja karena faktanya seperti itu di Lima. 

Tinggal di negara orang memang tidak mudah, tapi semua itu sudah menjadi konsekuensi dari apa yang sudah saya pilih. Saya harus menerima dan memang sudah tahu akan terjadi seperti ini. Saya juga melalui proses yang panjang dalam mengambil keputusan untuk tinggal di sini. Tidak semudah yang kalian bayangkan. Saya menikmati kehidupan saya yang sekarang ini. Semua orang juga mempunyai kisah kehidupan yang berbeda-beda dengan kisah suka duka yang berbeda pula. Dimanapun kalian tinggal, yang paling penting adalah bagaimana cara kita menikmatinya, ikhlas dan bahagia. 

Salam hangat dari Peru.

Share: